Categories
Pendidikan

Peranan perbankan dan perekonomian indonesia

Peranan perbankan dan perekonomian indonesia

Peranan perbankan dan perekonomian indonesia

Tugas-Tugas Bank

Tugas – tugas bank antara lain :

  1. Memberikan kredit ( pinjaman ) kepada orang atau badan usaha yang membutuhkannya. Kredit ini untuk tujuan kegiatan yang produktif dan dapat diberikan dengan kredit jangka panjang, kredit jangka menengah serta kredit jangka pendek.
  2. Menarik uang dari masyarakat. Dalam hal ini masyarakat dapat menyimpan uang yang tidak atau belum dipergunakan dalam bentuk rekening koran giro, deposito berjangka, Tabanas dan lain-lain.
  3. Memberikan jasa-jasa dalam bidang lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Jasa ini dapat berupa pengeluaran cek pengiriman uang, membeli dan menjual wesel, penukaran valuta asing ( mata uang asing ) dan sebagainya.
  4. Kegiatan lain, misalnya memberikan jaminan bank, menyewakan tempat untuk menyimpan barang-barang berharga.

 

Fungsi Bank

Fungsi-fungsi Bank antara lain :

  • Lembaga yang menghimpun dana-dana masyarakat
  • Lembaga yang menyalurkan dana dari masyarakat dalam bentuk kredit
  • Lembaga yang memperlancar transaksi perdagangan dan pembayaran uang
  • Memperlancar mekanisme pembayaran
  • Berkaitan dengan pemberian fasilitas atau kemudahan mengenai aliran dana dari yang kelebihan kepada yang membutuhkan dana.

 

Peranan Bank

Peranan Bank di dalam negeri adalah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dalam arti bahwa, semua kegiatan oleh bank itu menyangkut soal uang kegiatan-kegiatan itu meliputi : adminitrasi keuangan, penggunaan uang, penampungan uang, perdagangan dan penukaran, perkreditan, kiriman uang dan pengawasan.
Peranan Bank di luar negeri yaitu merupakan antara dunia international dalam lalu lintas devisa ( uang ), hubungan moneter dan perdagangan.

Hubungan antara bank-bank di dalam dan di luar negeri, memungkinkan berlangsungnya impor dan ekspor, kiriman uang, kepariwisataan dan lain-lain.

Peranan bank di dalam negeri dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Bank sebagai pembimbing masyarakat
  • Pembimbing di sini maksudnya agar masyarakat selalu berorientasi pada bank atau agar masyarakat menggunakan jasa perbankan di dalam pengelolaan usahanya.
  • Bimbingan bank tersebut misalnya terdiri dari upaya mendorong hasrat menabung dari masyarakat dalam bentuk :

Deposito Berjangka
Gerakan tabungan dalam bentuk deposito, memberikan bimbingan kepada masyarakat agar mereka tidak menghabiskan begitu saja seluruh pendapatnya, tetapi menyisihkan sebagian pendapatannya untuk disimpan dalam bentuk Deposito Berjangka.

Rekening Koran Giro
Bedanya dengan penyimpanan Deposito yaitu, jika Rekening Koran Giro dapat disetor dan diambil setiap waktu dan kalau deposito pengambilannya harus menunggu tanggal jatuh temponya.

Manfaat menyimpan uang dalam rekening koran giro ialah :

  • Pencatatan dana perusahaan menjadi lebih teratur, setiap uang yang dikeluarkan cukup dilakukan dengan cek.
  • Pengelolaan uang tunai menjadi lebih mudah, karena tidak perlu lagi menghitung lembaran-lembaran tunai yang ada.
  • Keamanan uang perusahaan akan lebih terjamin, karena terhindari dari bahaya pencurian, perampokan, peyalahgunaan, kebakaran dan sebagainya.

Bentuk bimbingan lainnya adalah pada proses pengambilan kredit oleh masyarakat. Dalam hal ini bank akan memberikan nasehat obyektif dan bantuan berupa kredit bagi pengusaha yang berminat. Nasehat tersebut dapat berupa penglolaan manajemen peusahaan, jumlah produksi yang optimal , jenis dan jumlah dana yang sebaiknya ditarik serta bagaimana memasarkan produk perusahaan.

 

Sumber : https://materi.co.id/

Categories
Pendidikan

PERAN BANK DUNIA BAGI DUNIA INTERNASIONAL

PERAN BANK DUNIA BAGI DUNIA INTERNASIONAL

PERAN BANK DUNIA BAGI DUNIA INTERNASIONAL
Sejak didirikan, Bank Dunia telah mengambil banyak peran bagi perkembangan dunia Internasional. Sebagaimana tujuan didirikannya, Bank Dunia telah membantu negara-negara korban perang, terutama di wilayah Eropa, untuk segera merekonstruksi infrastruktur dan perekonomiannya yang hancur pascaperang dunia kedua. Seteah proses rekonstruksi pascaperang selesai, Bank Dunia memulai peran baru sebagai lembaga pemberi pinjaman uang berbunga rendah untuk negara-negara berkembang yang membutuhkan.

 

Bank Dunia mendanai proyek-proyek

Di berbagai negara untuk mengembangkan beberapa hal, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, pengentasan kemiskinan, hingga lingkungan hidup. Bank Dunia seringkali memberikan bantuan dalam bentuk dua hal sekaligus, dana pinjaman dan juga rekomendasi kebijakan, terutama terkait kebijakan keuangan atau yang berhubungan dengan proyek yang didanai.

Bagaikan pisau bermata dua, bantuan dari Bank Dunia dirasakan oleh negara-negara peminjam memberikan dua dampak sekaligus, di mana satu dan yang lainnya saling bertolak belakang. Di satu sisi, bantuan Bank Dunia seringkali merupakan penyelamat keuangan dan perekonomian negara peminjam. Namun di sisi lain, bantuan tersebut juga tidak jarang menimbulkan masalah baru yang kadang jauh lebih besar dari masalah yang telah diatasi.

Negara-negara peminjam biasanya merupakan negara berkembang yang notabene-nya tergolong “miskin”, apalagi jika dibandingkan dengan negara maju. Mereka membutuhkan suntikan modal untuk proyek-proyek di berbagai bidang, meskipun biasanya berujung pada satu harapan, yaitu menggerakkan dan menggeliatkan roda perekonomian. Dengan hal tersebut, mereka bisa mendongkrak keuangan dan pendapatan dalam negeri. Modal inilah yang seringkali tidak bisa mereka dapatkan kecuali melalui lembaga-lembaga keuangan internasional. Dalam konteks ini, Bank Dunia memberikan keuntungan bagi negara-negara peminjam karena biasanya pinjaman yang diberikan tergolong berbunga rendah.

Bergeraknya roda perekonomian merupakan sesuatu yang sangat penting bagi suatu negara. Dengan roda perekonomian yang terus bergerak positif, negara-negara dunia ketiga memiliki sedikit harapan untuk menyusul atau setidaknya menyamai perekonomian di negara-negara maju. Hal ini tentunya menjadi keinginan seluruh negara berkembang, sehingga tidak mengherankan jika kemudian Bank Dunia dan juga lembaga-lembaga keuangan internasional lainnya menjadi penyedia “jalan pintas” menuju terwujudnya harapan tersebut.

Jika dilihat secara global, bantuan-bantuan dana kepada masing-masing negara peminjam telah menjadi penyangga, sehingga perekonomian dunia menjadi lebih stabil dan terkendali. Hal ini tentunya juga sesuai dengan tujuan keberadaan dari Bank Dunia. Karena keruntuhan, atau setidaknya kemunduran ekonomi suatu negara (yang mungkin terjadi tanpa bantuan Bank Dunia) dapat berdampak bagi negara-negara lainnya, baik di tingkat regional ataupun multinasional.

Namun masalahnya adalah, seperti yang sudah disebutkan, bahwa bantuan dana tersebut seringkali justru menimbulkan masalah-masalah baru yang kadang jauh lebih serius dari masalah yang telah ditanganinya. Tidak bisa dipungkiri, rata-rata negara peminjam biasanya merupakan negara dengan sistem kelembagaan dan profesionalisme pengelolaan uang yang kurang dibandingkan dengan negara-negara maju.

Analogi sederhananya adalah seperti seorang entrepreneur amatir yang sedang berusaha menjalankan roda bisnisnya dengan uang pinjaman dari investor kaya. Di satu sisi, pinjaman uang tersebut menjadi solusi karena tanpa modal uang pinjaman itu bisnis tidak akan bisa dijalankan sama sekali. Tapi di sisi lain, entrepreneur amatir seperti itu kemungkinan besar tidak ahli dalam pengelolaan modal yang telah diberikan, sehingga resiko kerugiannya sangat besar. Hal ini bisa disebabkan kesalahan dalam menggunakan uang, tidak efektif, tidak efisien, atau bahkan tidak bermanfaat.

Kembali ke konteks negara-negara peminjam, dana pinjaman dari Bank Dunia seringkali digunakan untuk proyek-proyek yang bisa jadi salah sasaran. Alih-alih mengambil keuntungan dari uang pinjaman yang diberikan, justru kerugian yang didapat beserta utang berbunga (meskipun rendah) yang terus menumpuk. Dalam hal inilah kemudian seringkali pinjaman dari Bank Dunia disertai prasyarat-prasyarat ataupun anjuran-anjuran berupa kebijakan keuangan atau kebijakan yang terkait dengan pelaksanaan proyek yang didanai.

Sayangnya, prasyarat dan anjuran ini justru sering dituding sebagai “biang keladi” kerumitan dan kemelut utang yang menimpa negara-negara peminjam. Bank Dunia dianggap terlalu sering menyamaratakan konsep dan asumsi bagi seluruh negara-negara peminjam, padahal sangat mungkin satu kebijakan yang cocok di satu negara justru merusak jika diterapkan di negara yang lain. Sebagai contoh, liberalisasi keuangan dan kapitalisme yang senantiasa dikampanyekan Bank Dunia (karena didominasi dari sejak pembentukannya oleh dua motor kapitalisme, AS dan Inggris), bisa berdampak sangat negatif jika negara yang menerapkannya tidak memiliki kesiapan yang baik, sebagaimana terjadi pada Indonesia yang mengalami krisis pada tahun 1997.

 

Prasyarat dan anjuran lain dari Bank Dunia yang sering jadi bahan tudingan

adalah mengenai pelaksana atau pihak yang terlibat dalam proyek. Dengan alasan ketidakmampuan negara peminjam untuk secara mandiri menjalankan proyek tersebut karena kendala teknologi dan profesionalisme, Bank Dunia secara eksplisit maupun implisit, secara langsung maupun tidak langsung, seringkali mensyaratkan keterlibatan negara maju yang notabene-nya merupakan negara pendonor dana bantuan itu. Dalam hal ini, negara maju yang dimaksud diminta untuk menjadi semacam “kontraktor” ataupun konsultan yang terlibat langsung dalam menjalankan proyek tersebut. Dampaknya adalah kembalinya aliran uang pinjaman kepada negara peminjam.

Aliran uang pinjaman kepada negara peminjam merupakan salah satu tema sentral yang menjadi bahan kontroversi dari setiap proyek yang didanai Bank Dunia. Hal ini dapat dianalogikan secara sederhana dengan adanya seorang entrepreneur amatir yang meminjam uang untuk berbisnis menjalankan proyek tertentu, tetapi kemudian karena ketidakmampuannya menjalankan proyek, ia justru meng-hire sang pemberi pinjaman. Dengan demikian, yang terjadi adalah entrepreneur tersebut menanggung dua resiko, resiko kerugian dari proyek bisnis yang dijalankan serta resiko menanggung utang dari bunga pinjaman. Sementara di sisi lain, sang peminjam menikmati dua keuntungan, keuntungan gaji ataupun imbalan atas kerjanya sebagai pihak yang menjalankan proyek dan keuntungan dari bunga pinjaman. Bagi pihak peminjam, kerugian atas proyek yang dilaksanakan tidak menjadi masalah baginya, karena uang ganti ruginya pun ditanggung oleh entrepreneur sebagai pihak peminjam.

Kembali ke dalam konteks negara peminjam, alih-alih uang pinjaman menjadi stimulasi untuk menggerakkan roda ekonomi, sebagian besarnya justru menjadi penggerak roda ekonomi di negara pemberi pinjaman. Sementara yang tertinggal di negara peminjam hanyalah bentuk fisik maupun non-fisik hasil dari proyek yang telah dilaksanakan.

 

Akumulasi dari dampak-dampak negatif di atas

adalah kemelut utang yang semakin menumpuk bagi negara peminjam. Selain itu, bisa terjadi kerawanan sosial di dalam negeri peminjam akibat penggunaan dana proyek yang salah sasaran, tidak profesional, atau banyak “kebocoran”. Sehingga mayoritas masyarakat negara peminjam yang seharusnya menikmati uang pinjaman yang diberikan justru merasa tidak mendapat apa-apa, yang ada hanyalah segelintir orang kaya di dalam negeri yang semakin kaya lantaran mendapat bagian “jatah proyek yang telah dilaksanakan.

Jika tidak diselesaikan, akumulasi masalah-masalah yang terjadi di masing-masing negara peminjam dapat terakumulasi lagi menjadi masalah global. Tanpa penanganan dan perhatian serius dari dunia internasional terhadap masalah ini, termasuk Bank Dunia, stabilitas ekonomi global suatu saat dapat sangat terganggu, bahkan mengakibatkan chaos. Alih-alih menjaga kestabilan ekonomi global, mungkin yang dijalankan Bank Dunia dan lembaga keuangan sejenis justru menunda gejolak ekonomi global saat ini, dan menumpuknya hingga “meledak” saat individu dan negara peminjam tidak lagi bisa menampung masalah yang mereka hadapi.

 

Sumber : https://carabudidaya.co.id/

Categories
Pendidikan

PERAN BANK DUNIA TERHADAP INDONESIA

PERAN BANK DUNIA TERHADAP INDONESIA

PERAN BANK DUNIA TERHADAP INDONESIA

Kebijakan politik pemerintahan Presiden Soekarno yang mendekat ke blok Uni Soviet menyulitkan Bank Dunia yang memiliki paham berseberangan untuk mengambil peran lebih banyak bagi Indonesia. Oleh karena itu, Bank Dunia baru mulai berperan sebagai lembaga pemberi pinjaman bagi Indonesia pada saat awal masa pemerintahan Presiden Soeharto, yaitu sekitar tahun 1968. Namun sebelum memberikan pinjaman, Bank Dunia “menjajaki” Indonesia dengan memberikan bantuan teknis untuk identifikasi kebijakan makroekonomi, kebijakan sektoral yang diperlukan, dan kebutuhan pendanaan yang kritis (Hutagalung, 2009).

 

Di masa-masa awal pemberian pinjaman

Indonesia masih dianggap sebagai negara yang memiliki nilai credit worthiness yang rendah. Oleh karena itu, pinjaman yang diberikan oleh Bank Dunia pada saat itu menggunakan skema IDA atau pinjaman tanpa bunga, kecuali administrative fee ¾ persen per tahun dan jangka waktu pembayaran 35 tahun dengan masa tenggang 10 tahun. Dana pinjaman pertama yang diberikan kepada Indonesia adalah sebesar 5 juta dolar AS pada September 1968 (Hutagalung, 2009).

Pada masa-masa awal tersebut, dana pinjaman dari Bank Dunia digunakan untuk pembangunan di bidang pertanian, perhubungan, perindustrian, tenaga listrik, dan pembangunan sosial. Pada tahun-tahun berikutnya, Indonesia berhasil menunjukkan performa ekonomi yang memuaskan, dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen per tahun, jauh lebih besar dari rata-rata pertumbuhan ekonomi negara peminjam yang lain. Oleh karena itu, sejak akhir dekade 70-an Indonesia sudah mulai dianggap sebagai negara yang lebih creditworthy untuk memperoleh pinjaman Bank Dunia yang konvensional atau dengan menggunakan skema IBRD. Berbeda dari periode sebelumnya, pada dekade 80-an, pinjaman uang Bank Dunia terlihat lebih terarah pada masalah deregulasi sektor keuangan, selain masih tetap digunakan bagi pengembangan sektor-sektor sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya.

 

Indonesia menunjukkan performa ekonomi

Pada awal dekade 90-an hingga sebelum memasuki krisis moneter tahun 1997, Indonesia menunjukkan performa ekonomi yang mengagumkan, bahkan sempat dijuluki sebagai salah satu Asian Miracle. Laporan dan analisis Bank Dunia terhadap perekonomian Indonesia acap kali dihiasi dengan berbagai pujian. Sayangnya, sebagaimana terjadi pada banyak negara lain seperti yang sudah dijelaskan di bagian sebelumnya, performa ekonomi yang memikat tersebut ternyata lebih tepat sebagai “penundaan masalah”.

 

Kekeliruan dan dampak negatif dari bantuan Bank Dunia

baik berupa dana pinjaman maupun anjuran kebijakannya, terbukti nyata (meski bukan faktor satu-satunya) pada saat Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1997. Liberalisasi sektor keuangan yang didukung penuh oleh Bank Dunia terbukti tidak cocok, bahkan mencelakakan, Indonesia. Pada saat krisis terjadi, mungkin salah satu bantuan paling berharga yang diberikan oleh Bank Dunia berupa persetujuan atas permintaan pemerintah Indonesia untuk membatalkan pinjaman yang tidak terserap sebesar 1,5 miliar dolar AS dan menyesuaikan (realokasi) pinjaman lainnya sebesar 1 miliar dolar AS untuk membiayai program mendesak, seperti bantuan biaya sekolah, beasiswa, dan jaring pengaman sosial.

Kemudian, pascakrisis yang melanda Indonesia, bantuan Bank Dunia masih terus berlanjut, terutama difokuskan pada kelanjutan pemulihan ekonomi, penciptaan pemerintah yang transparan, dan penyediaan pelayanan umum yang lebih baik, terutama bagi kelompok miskin. Terakhir, Bank Dunia kembali menyetujui dua pinjaman kebijakan pembangunan kepada Indonesia dengan nilai total 800 juta dolar AS untuk mendukung program prioritas reformasi yang dimotori Pemerintah Indonesia pada bulan November 2010 (Purwoko, 2010).

Dari penjelasan tahap demi tahap bantuan Bank Dunia kepada Indonesia sejak tahun 1968, kita dapat melihat betapa besar peran yang dimainkan oleh Bank Dunia terhadap pembangunan dan pasang surut perekonomian nasional. Mulai dari infrastruktur yang dibangun selama dekade 1970-an hingga kebijakan-kebijakan terbaru di era reformasi, semuanya tidak terlepas dari peran Bank Dunia.

Krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1997 seharusnya dapat memberi pelajaran berharga mengenai dua mata pisau yang diberikan oleh “bantuan” Bank Dunia. Terlepas dari kontroversi niat dan tujuan pemberian bantuan oleh Bank Dunia, Indonesia sejatinya bisa memilih menjadi negara yang mandiri dan menentukan masa depannya sendiri, mengukur kemampuan membayar dan menghitung jumlah dana yang mungkin dipinjam, menyeleksi proyek yang dijalankan agar sesuai dengan sasaran serta mencapai efektifitas dan efisiensi, menilik kebijakan yang bisa diliberalisasi dan yang tidak, serta membekali diri dengan pengetahuan dan teknologi. Karena bagaimanapun, kejahatan tidak hanya disebabkan niat dari pelakunya, tapi juga kelengahan dan kesempatan yang diberikan oleh korbannya.

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

Categories
Pendidikan

Perekonomian Barter dan Perekonomian Uang

Perekonomian Barter dan Perekonomian Uang

Perekonomian Barter dan Perekonomian Uang
Perdagangan telah dijalankan oleh berbagai masyarakat sejak masa lalu hingga masa kini. Berdasarkan sifatnya perekonomian dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu perekonomian barter dan perekonomian uang. Perekonomian barter adalah suatu sistem kegiatan ekonomi masyarakat yang kegiatan produksi dan perdagangannya masih sangat sederhana. Dalam sistm barter, kegiatan tukar menukar masih terbatas, dan jual-beli dilakukan dengan saling mempertukarkan barang (barter), yaitu barang ditukarkan dengan barang lainnya secara langsung.

Oleh karena sistem barter terbukti tidak efisien, maka digunakan sistem perekonomian uang. Perekonomian uang adalah perekonomian yang sudah menggunakan uang sebagai alat tukar dalam kegiatan perdagangan. Saat ini, semua Negara di dunia menggunakan perekonomian uang. Semakin modern suatu negara, semakin penting peranan uang dalam mendorong kegiatan perdagangan. Sejak berabad-abad yang lalu masyarakat telah menyadari manfaat atau fungsi uang. Peranan uang sangat penting dalam melancarkan kegiatan perdagangan. Tanpa uang kegiatana perdagangan menjadi sangat terbatas dan spesialisasi tidak dapat berkembang. Dengan mempelajari sistem barter, akan semakkin tampak pentingnya uang.

 

Beberapa kelemahan sistem barter sebagai berikut :

(a) Perekonomian Barter Memerlikan Kehendak Ganda yang Selaras. Kehendak ganda yang selaras adalah keinginan memiliki barang oleh tiap pihak melalui pertukaran barang yang diinginkan oleh pihak lain.

Sebagai contoh, Bu Karti ingin menukar baju yang dibuatnya dengan beras. Kebutuhan Pak Achmad mempunyai beras dari hasil sawahnya, dan ingin mencari baju seperti yang dibuat Bu Karti. Keadaan seperti itu memungkinkan berlakunya tukar menukar atau barter antara Bu arti dan Pak Achmad. Akan tetapi keadaan seperti itu tidak selalu berlaku. Bu Karti tidak dapat memperoleh beras apabila Pak Achmad tidak menginginkan baju. Sebaliknya, Pak Achmad tidak dapat menukar berasnya dengan Bu Karti karena ia hanya mempunyai baju untuk ditukarkan. Dengan kenyataan, kebutuhan Bu Karti atau Pak Achmad atau setiap orang tidak terbatas pada satu macam barang, melainkan berbagai macam barang.

(b) Dalam Perekonomian Barter Penentuan Harga Sulit Dilakukan. Melalui uang, nilai barang dapat ditentukan dalam bentuk harga.

Contohnya, harga satu kilogram beras Rp 1.000,00, harga seekor ayam Rp 2.500,00, dan harga sepotong baju Rp 15.000,00. Dari harga-harga tersebut dapat ditentukan perbandingan nilai antara satu barang dengan barang lainnya. Dari contoh tersebut menunjukkan bahwa nilai 1 potong baju = 6 ekor ayam = 15 kg beras.

Dalam perekonomian barter cara menentukan harga dengan menggunakan satuan uang tidak dapat dilakukan. Nilai pertukaran suatu barang dengan berbagai barang lain harus dibuat, seperti contoh di atas. Dalam contoh, harga baju dinilai berdasarkan jumlah ayam dan beras. Cara ini akan menyulitkan kegiatan tukar menukar dan perdagangan.
(c) Perekonomian Barter Membatasi Pilihan Pembeli. Dalam sistem barter, setiap orang terikat pada syarat yang ditentukan para pihak yang menginginkan barang.

Sebagai contoh, seorang petani ingin menjual sebagian padinya. Pada mulanya ia ingin menukar sebanyak 100 kg saja. Tetapi pihak yang memerlukan padi mempunyai sapi dan ia menginginkan 1.000 kg padi. Pilihan bagi petani adalah membatalkan menukar padinya atau menukarkan 1.000 kg padinya dengan sapi. Dalam perekonomian uang kedua keadaan itu tidak perlu terjadi, karena petani tersebut dapat dengan mudah menjual 100 kg padi. Uang dari penjualan tersebut dapat disimpan atau dibelikan barang lain yang diinginkan.

(d) Perekonomian Barter Menulitkan Pembayaran Masa Depan. Dalam perekonomian uang, dapat dilakukan penjualan secara kredit melalui perjanjian. Dalam perjanjian, nilai kredit dinyatakan dalam mata uang yang digunakan. Dalam sistem barter, penjualan kredit pun akan dibayar dalam bentuk barang. Akan tetapi, hal ini menyulitkan perdagangan karena (1) timbul masalah untuk menentukan jenis barang yang akan digunakan untuk pembayaran dan (2) harus dibuat perjanjian mengenai mutu barang yang akan digunakan sebagai pembayaran.

(e) Dalam perekonomian barter sulit menyimpan kekayaan. Dalam perekonomian modern kekayaan disimpan dalam bentuk uang atau harta yang bersifat uang, misalnya saham, deposito, dan tabungan di bank. Dalam perekonomian barter menyimpan kekayaan sulit dilakukan. Kekayaan harus disimpan dalam bentuk barang seperti rumah, ternak peliharaan, emas, dan perhiasan lain, atau tanah. Kekayaan seperti itu memerlukan tempat dan biaya penyimpanan atau biaya pemeliharaan. Dalam perekonomian uang, masyarakat mempunyai pilihan yang lebih banyak dalam menyimpan kekayaannya, dan tidak perlu seluruhnya dalam bentuk barang.

 

Definisi dan Kriteria Uang

Dari contoh kesulitan-kesulitan di atas, dapat kita simpulkan bahwa uang diciptakan dengan tujuan untuk melancarkan kegiatan tukar menukar dan perdagangan. Dengan demikian, uang didefinisikan sebagai segala sesuatu (benda) yang diterima oleh masyarakat sebagai alat perantara untuk mengadakan tukar menukar atau perdagangan. Dalam definisi ini, kata “diterima” berarti disepakati masyarakat sebagai alat perantara dalam kegiatan tukar menukar. Agar masyarakat menerima dan menyetujui penggunaan sesuatu benda sebagai uang, benda itu haruslah memenuhi beberapa kriteria (syarat) sebagai berikut:

Diterima Umum. Masyarakat menerima uang karena uang berfungsi sebagai alat pertukaran barang atau jasa. Bagi masyarakat, fungsi uang tersebut sangat bermanfaat dibandingkan dengan sistem barter.
Nilainya Tidak mengalami Perubahan dari waktu ke waktu. Sebagai alat tukar, uang mempunyai nilai yang perlu dijaga agar tetap stabil. Nilai uang boleh saja berubah, namun fluktuasinya (besar kecilnya nilai perubahan) adalah kecil. Apabila niali uang tidak stabil, uang tidak akan diterima secara umum, karena masyarakat akan menyimpan kekayaannya dalam bentuk barang-barang yang nilainya stabil.
Mudah Dibawa. Uang mudah dibawa untuk urusan setiap hari. Bahkan transaksi dalam jumlah besar sekalipun dapat dilakukan dengan uang dalam jumlah (secara fisik) yang sedikit sehingga mudah dan aman dibawa.
Mudah Disimpan Tanpa Mengurangi Nilainya. Uang mudah disimpan dengan aman tanpa mengurangi nilainya.
Tahan Lama. Setiap hari uang selalu berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Semakin kecil nilai nominal uang (nilai yang tertera di lembaran uang), semakin sering uang itu berpindah tangan. Agar tidak mudah rusak, uang dibuat dari bahan kertas yang cukup ulet dan kuat, atau dari bahan logam.
Jumlahnya Tidak Berlebihan. Jumlah uang yang beredar seharusnya tidak berlebihan agar nilainya tidak turun. Maka, jumlah uang yang beredar haruslah mencukupi kebutuhan perekonomian (dunia usaha). Jika persediaan uang tidak cukup untuk mengimbangi kegiatan usaha, perdagangan akan macet. Hal ini menyebabkan pertukaran akan kembali pada perekonomian barter, yaitu barang ditukar dengan barang lainnya secara langsung. Oleh karena itu, bank Sentral sebagai instansi yang menciptakan uang haruslah mampu melihat perkembangan perekonomian. Bank Sentral harus mampu menyediakan uang yang cukup bagi perekonomian. Sebaliknya, Bank Sentral harus mengurangi jumlah uang yang beredar jika uang yang beredar terlalu banyak dibandingkan dengan kegiatan perekonomian.
Terdiri Atas Berbagai Nilai Nominal. Uang digunakan untuk memperlancar berbagai transaksi, baik dalam jumlah besar maupun kecil. Oleh karena itu, uang dicetak dalam berbagai nilai nominal agar mencukupi dan memperlancar transaksi jual-beli tersebut.

 

Fungsi Uang

Uang memiliki beberapa fungsi sebagai berikut.

  • Sebagai lat Perantaraan Untuk Tukar Menukar (Alat Tukar). Jika seseorang memiliki banyak uang, ia dapat menukarkannya dengan barang-barang yang diinginkan. Dengan adanya uang, kegiatan tukar menukar semakin lancer. Uang telah memungkinkan seseorang memperoleh barang yang diinginkan hanya dengan cara menemukan orang yang memiliki barang tersebut. Penjual barang dapat membelanjakan uangnya untuk membeli barang yang diperlukan orang lain. Jadi, dengan menggunakan uang dalam kegiatan tukar menukar maka waktu untuk melakukan kegiatan tersebut dapat dipersingkat, tenaga dihemat, dan kegiatan tukar menukar menjadi lebih sederhana. Berarti, uang telah melancarkan jalannya kegiatan perdagangan. Dengan demikian, uang berfungsi sebagai alat tukar (medium of exchange).
  • Sebagai Alat Satuan Hitung. Yang dimaksudkan dengan satuan hitung (unit of account) adalah satuan ukuran yang menentukan besarnya nilai berbagai jenis barang. Nilai suatu barang dapat dinyatakan dengan harga barang tersebut. Dengan adanya harga maka dapat dibandingkan nilai berbagai macam barang berdasarkan harganya. Tanpa uang nilai sesuatu barang harus dinyatakan dengan membandingkan nilai pertukaran berbagai jenis barang lainnya. Misalnya, untuk menentukan nilai seekor sapi harus dinyatakan dengan banyaknya beras, ayam, kambing, atau berbagai jenis barang lainnya yang diperlukan untuk memperoleh sapi tersebut. Penggunaan uang sebagai alat satuan hitung memudahkan masyarakar menentukan nialai sesuatu barang dengan cara menentukan nilai tukar barang tersebut dengan berbagai jenis barang lainnya. Misalnya harga sepasang sepatu Rp 20.000,00, sepotong baju Rp 10.000,00, dan sekilo beras Rp 1.000,00. Maka masyarakat tidak perlu bersusah payah membandingkan bahwa satu pasang sepatu sama nilainya dengan dua potong baju, atau sama nilainya dengan 20 kg beras.
  • Sebagai Ukuran Pembayaran Masa Depan. Transaksi-transaksi barang atau jasa banyak dilakukan dengan mengadakan pembayaran tertunda (kredit). Para pembeli memperoleh barang terlebih dahulu dan pembayarannya dilakukan pada masa yang akan datang. Pihak pembeli kredit percaya bahwa pihak penerima barang tersebut akan mengembalikan atau melunasi pinjamannya pada waktu tertentu. Fungsi tersebut dapat dijalankannya dengan baik, jika nilai uang stabil. Nilai uang dikatakan stabil apabila sejumlah uang yang dibelanjakan akan tetap memperoleh barang-barang yang sama banyak dan sama mutunya dari waktu ke waktu. Apabila syarat ini tidak terpenuhi, maka fungsi uang sebagai ukuran pembayaran masa depan (standard for deferred payment) tidak akan dapat dijalankan dengan sempurna. Ada kemungkinan orang lebih suka menerima pembayaran yang akan datang dalam bentuk barang atau menghindari tukar menukar dengan pembayaran masa depan. Keadaan seperti itu selalu terjadi pada waktu harga-harga barang mengalami kenaikan yang cepat dari waktu ke waktu (inflasi).
  • Sebagai Alat Penyimpan Kekayaan. Kekayaan seseorang dapat disimpan dalam bentuk uang. Dahulu, orang menyimpan kekayaan dalam bentuk barang, misalnya rumah, hewan peliharaan (sapi, kerbau, kambing, ayam), emas, atau barang-barang lainnya. Apabila harga-harga barang stabil, menyimpan kekayaan dalam bentuk uang lebih menguntungkan dibanding menyimpannya dalam bentu barang. Di dalam perekonomian yang sudah maju, jenis uang yang terutama adalah uang giral (cek, giro). Uang jenis ini tidak memerlukan biaya penyimpanan dan mudah mengurusnya. Penyimpanan dan pengurusan uang tersebut bukan dilakukan oleh pemiliknya, tetapi oleh bank-bank umum yang menyimpan uang itu. Meskipun uang tersebut tidak di tangan pemiliknya, ia dapat mudah menggunakannya. Caranya dengan menuliskan di selembar cek yang menunjukkan jumlah uang yang harus dibayarkan dan kepada siapa pembayaran itu harus dilakukan. Jenis kedua adalah uang kertas. Uang ini juga merupakan alat penyimpan kekayaan (store of value). Penyimpanannya tidak memerlukan biaya dan ruangan yang besar. Uang berfungsi sebagai alat penyimpan kekayaan yang lebih baik daripada menyimpan kekayaan berupa barang, jika nilai uang tidak mengalami perubahan yang berarti dari satu periode ke periode lainya. Apabila harga-harga selalu mengalami kenaikan yang pesat, nilai uang akan terus menerus mengalami kemerosotan. Maka, kekayaan yang berupa uang akan mengalami penurunan nilai jika dibandingkan dengan kekayaan yang berbentuk barang. Dalam keadaan demikian, uang bukanlah alat penyimpan kekayaan yang baik. Apabila keadaan seperti itu terjadi dalam perekonomian maka masyarakat akan beramai-ramai menggantikan kekayaan yang berupa uang menjadi kekayaan yang berbentuk barang, terutama berupa tanah, rumah, atau emas. Butir a dan b merupakan fungsi asli uang, sedangkan butir c dan d merupakan fungsi turunan uang.

 

Sumber : https://seputarilmu.com/

Categories
Pendidikan

Sejarah Penggunaan Uang Sistem Barter

Sejarah Penggunaan Uang Sistem Barter

Sejarah Penggunaan Uang Sistem Barter

Pada zaman purba, atau pada masyarakat yang masih sangat sederhana, orang belum biasa menggunakan uang. Perdagangan dilakukan dengan cara langsung menukarkan barang dengan barang, lazim disebut barter. Cara ini bisa berjalan selama tukar menukar masih terbatas pada beberapa jenis barang saja. Akan tetapi, dalam masyakarat yang lebih maju, yang sudah mengenal spesialisasi, cara pertukaran barter ini semakin tidak sesuai lagi. Di muka telah diterangkan tentang kesulitan-kesulitan di dalam perekonomian barter.

 

Uang Barang.

Karena barter mengalami banyak kesulitan, maka dibutuhkan barang perantara yang dapat mempermudah pertukaran. Dengan kemajuan perdagangan, hampir dengan sendirinya timbul barang-barang yang disukai oleh setiap orang. Barang-barang tersebut mudah ditukarkan lagi dengan barang lain yang dibutuhkan. Dengan demikian barang tersebut berfungsi sebagai alat tukar menukar, sehingga dapat disebut uang. Oleh karena uang tersebut berupa barang, maka disebut uang barang. Bermacam-macam barang yang telah dipakai sebagai uang barang (commodity money) adalah kerang, ternak, batu intan, perhiasan, perkakas, the, beras dan tembakau. Uang barang memiliki kelemahan, yaitu sulit dibawa, disimpan atau dibagi-bagi.

 

Logam Mulia.

Tukar menukar dengan bantuan barang perantara masih jauh dari memuaskan. Untuk itu maka orang mencari barang yang lebih praktis sebagai alat penukar. Yang paling banyak dipakai adalah logam mulia (khususnya emas dan perak). Jenis uang ini selama kurang lebih dua puluh lima abad merupakan mata uang yg paling banyak digunakan oleh berbagai negara. Emas dan perak mempunyai cirri-ciri yang diperlukan untuk menjadi uang yang baik. Ciri-ciri tersebut sebagai berikut;

Dapat digunakan sebagai perhiasan.
Emas maupun perak masing-masing mempunyai mutu yang sama.
Keduanya tidak mudah rusak, dan dapat dengan mudah dibagi-bagi / dipotong-potong apabila diperlukan.
Jumlahnya sangat terbatas dan untuk memperolehnya perlu biaya dan usaha.
Kedua barang itu sangat stabil nilainya, yaitu tidak berubah mutunya dalam jangka waktu panjang dan tidak mengalami kerusakan.

Semula potongan-potongan logam mulia setiap kali harus ditimbang dan ditentukan kadarnya untuk menentukan nilainya. Karena hal ini merepotkan, lambat laun para raja / penguasa setempat mulai menempa mata uang. Potongan-potongan logam mulia diberi bentuk tertentu (biasanya kepingan), diberi gambar (raja) atau cap resmi sebagai jaminan berat dan kadarnya, kemudian juga diberi angka yang menyatakan nilainya. Nilai bahan uang (emas atau perak yang termuat di dalamnya) disebut nilai intrinsic. Sedangkan angka yang dicap pada mata uang untuk menyatakan nilainya menunjukkan nilai nominal mata uang itu. Semula nilai nominal uang sama dengan nilai intrinsiknya (nilai fisik uang).

Uang yang terbuat dari emas dan perak telah mulai digunakan sejak abad ketujuh sebelum masehi. Sampai abad yang lalu mata uang emas dan perak merupakan uang yang paling penting dan paling banyak digunakan. Kemajuan ekonomi yang dicapai sesudah Revolusi Industri menyebabkan perdagangan berkembang pesat. Permintaan terhadap emas dan perak sebagai uang bertambah dengan sangat pesat pula. Maka kesulitan-kesulitan mulai timbul dalam menggunakan kedua logam tersebut sebagai uang.

Sebab – sebab utama dari kesulitan tersebut sebagai berikut :

Emas dan Perak Memerlukan Tempat Penyimpanan yang Agak Besar. Pada waktu transaksi belum begitu besar nilainya, penyimpanan uang (emas dan perak) belum menjadi masalah, karena belum memerlukan banyak ruangan. Kemajuan ekonomi diikuti pula oleh perkembangan perdagangan sehingga besarnya nilai transaksinya berlipat.
Emas dan Perak Merupakan Benda yang Berat. Dalam transaksi yang nilainya kecil hanya dibutuhkan sejumlah kecil mata uang emas dan perak. Berat benda tersebut belum menimbulkan kesulitan para pihak yang melakukan transaksi. Berhubung perekonomian bertambah maju, nilai transaksi meningkat berkali-kali lipat, sehingga perdagangan memerlukan mata uang emas dan perak yang banyak sekali jumlahnya. Hal ini menimbulkan masalah untuk membawanya dari satu tempat ke tempat lain.
Emas dan Perak Sulit untuk Ditambah Jumlahnya. Dalam dua abad belakangan ini perdagangan berkembang sangat pesat, sedangkan pertambahan emas dan perak tidak secepat perkembangan perdagangan. Ketidakseimbangan ini dapat menghalangi perkembangan perdagangan, karena terhambat oleh kurangnya uang. Untuk pemakaian sehari-hari di pasar dibutuhkan uang kecil. Keperluan ini sulit dilayani oleh mata uang emas yang nilainya tinggi. Sebenarnya orang dapat menempa mata uang dengan kadar emas yang lebih rendah. Akan tetapi kebanyakan digunakan logam-logam lain (misalnya perunggu atau tembaga) untuk membuat uang kecil. Dengan demikian ada dua-tiga macam uang logam yang beredar sekaligus, dengan perbandingan nilai sesuai dengan nilai intrinsiknya masing-masing. Hal ini berlangsung sampai berabad-abad lamanya.

Kalau hanya satu jenis logam mulia dipakai sebagai dasar uang induk, dinamakan monometalisme (mono = tunggal, metal = logam). Kenyataannya banyak negara yang dahulu mempergunakan dua macam logam mulia sebagai bahan pembuat uang, yaitu emas dan perak. Ini disebut bi-metalisme (artinya dua logam). Perbandingan nilai antara uang emas dan perak ditetapkan dengan undang-undang. Misalnya 1 mata uang emas = 25 mata uang perak. Perbandingan nilai ini ditentukan berdasarkan perbandingan nilai bahan yang berlaku pada waktu itu.

Pemakaian dua macam logam (emas dan perak) dengan perbandingan tertentu yang ditetapkan dengan undang-undang ini menimbulkan persoalan. Sebab emas dan perak, disamping dipakai sebagai bahan pembuat mata uang, juga digunakan untuk tujuan-tujuan lain (seperti perhiasan) dan diperjualbelikan di pasaran bebas. Harganya di pasar dapat naik atau turun, sesuai dengan perkembangan permintaan dan penawaran, terutama harga perak tidak begitu stabil. Hal inilah yang menimbulkan persoalan.

Semula nilai nominal mata uang logam ditetapkan sesuai dengan nilai intrinsiknya. Jika harga (bahan) perak di pasar turun maka nilai intrinsic mata uang perak juga merosot. Padahal mata uang perak sudah ditempa dengan nilai nominal tertentu. Dengan perubahan harga perak di pasaran, terjadi perbedaan (selisih) antara nilai nominal mata uang perak dengan nilai intrinsiknya. Nilai adalah nilai yang sudah ditetapkan dengan undang-undang dan dicapkan pada mata uang. Nilai intrinsic adalah nilai perak bahan pembuat mata uang. Dengan demikian perbandingan nilai antara mata uang perak dan mata uang emas juga menjadi kacau. Misalnya semula perbandingan nilai emas dan perak 1 : 25. Dengan turunnya harga perak maka perbandingan nilai resmi (nominal) masih tetap 1 : 25, tetapi perbandingan nilai menurut harga pasar 1 : 30. Akibatnya, orang akan mempergunakan uang perak karena nilai intrinsiknya merosot. Misalnya untuk membayar pajak, melunasi utang dan membeli barang-barang. Sedangkan mata uang emas yang masih “utuh” nilainya ditahan dan bahkan hilang dari peredaran.

Hal seperti itu dialami di banyak negara, yang oleh Thomas Gresham (dinamakan Hukum Gresham) dirumuskan sebagai “Uang yang jelek menyingkirkan uang yang bagus”. (Bad money drives out good money). Yang dimaksud dengan bad money adalah uang yang nilai bahannya (nilai intrinsiknya) lebih rendah daripada nilai nominalnya, atau yang sudah rusak / cacat. Sedangkan good money adalah uang yang nilai intrinsiknya masih utuh, tidak berbeda dengan nilai nominalnya. Apabila suatu negara memakai uang emas dan uang perak sekaligus dengan perbandingan nilai yang ditetapkan dengan undang-undang berdasarkan nilai intrinsic, tetapi kemudian terjadi perubahan dalam perbandingan nilai nyata / riil maka Hukum Gresham mulai berlaku dan uang yang bagus akan menghilang dari peredaran.

Dengan demikian, tidak mungkin ada dua macam uang logam mulia beredar sekaligus dengan perbandingan nilai yang tetap (ditetapkan dengan undang-undang). Kecuali, jika salah satu dari keduanya diberi nilai (nominal) yang oleh pemerintah ditetapkan lepas dari nilai bahannya. Dengan kata lain, hanya ada satu macam logam mulia yang dipakai sebagai standar yang bernilai penuh, sedangkan mata uang lainnya tidak bernilai penuh. Uang yang nilai nominalnya lebih besar daripada nilai intrinsiknya itu disebut uang tanda (token money), yang pertama kali diresmikan di Inggris pada tahun 1816. Dalam hal ini pemerintah mengedarkan uang yang nilai resminya menyimpang (lebih tinggi) dari nilai bahannya. Dengan demikian nilai uang sudah tidak ditentukan oleh nilai bahannya, melainkan oleh angka yang tertera / dicap di atasnya (nilai nominalnya).

Masyarakat tetap mau menerima uang seperti itu karena pemerintah menjamin nilai buatan tersebut. Pemerintah bersedia menerima uang tanda tadi untuk pembayaran pajak, dan menjamin uang tanda dapat ditukarkan dengan uang standar yang bernilai penuh. Ketika uang tanda mulai diterima umum, pemerintah dan dunia perbankan juga mulai mengedarkan uang kertas (yang sama sekali tidak ada nilai intrinsiknya) untuk tujuan yang sama. Dengan demikian, kaitan antara nilai uang dan nilai bahannya lepas sama sekali.

 

Uang Kertas

Penggunaan uang kertas sebagai alat perantaraan perdagangan berkembang sangat pesat lebih-lebih setelah bank-bank umum mengeluarkan uang kertas tanpa terlebih dahulu menerima emas dari para nasabahnya. Apabila di dalam perekonomian telah terjadi kebutuhan yang mendesak akan uang, maka bank-bank umum akan bersedia menyediakannya sampai pada suatu jumlah maksimum tertentu. Dengan demikian, setelah periode tersebut uang kertas yang beredar telah melebihi nilai emas yang disimpan oleh bank-bank umum.

Masyarakat masih tetap bersedia menggunakan uang kertas karena di atas uang kertas tersebut tertera janji bank umum. Isinya : apabila pemegangnya ingin menggantikan uang tersebut dengan emas, bank umum setiap waktu bersedia melakukannya. Jadi, emas yang ada di bank-bank umum (yang dipercayakan kepada bank-bank itu untuk disimpan) akan digunakan oleh bank-bank umum sebagai cadangan untuk mencetak lebih banyak uang kertas.

Di dalam keadaan politik dan perekonomian yang stabil para pemegang uang kertas tidak akan menukarkannya dengan uang. Oleh sebab itu, uang kertas yang diciptakan melebihi nilai emas yang disimpan, bank-bank umum akan selalu dapat memenuhi keinginan beberapa pemegang uang yang ingin menukarkannya dengan emas. Dewasa ini kaitan antara emas dengan uang kertas sudah hampir lepas sama sekali. Uang kertas sudah tidak mewakili sejumlah emasdan menjadi alat tukar belaka yang diterima umum.Oleh pemrintah uang kertas dinyatakan sebagai alat pembayar yang sah (legal tender ).Uang kertas yang sekarang digunakan di berbagai negara tidak dikeluarkan oleh bank-bank umum,melainkan oleh Bank Sentral.Bank Sentral adalah bank yang bertindak sebagai bank untuk bank –bank umum. Sekarang bank umum tidak diberi kekuasaan lagi oleh pemerintah untuk mengeluarkan uang kertas. Di Indonesia hanya ada satu bank yang berhak mengedarkan uang kertas, yaitu Bank Indonesia sebagai Bank Sentral.Bank yang diberi hak tunggal mengedarkan uang (kertas dan logam) disebut Bank Sirkulasi. Semua emas moneter,yang dijadikan sebagai jaminan keuangan, dipusatkan pada Bank Indonesia dan dipakai sebagai cadangan dan / atau untuk alat pembayaran internasional.

Uang Giral

Bank-bank umum sudah tidak mempunyai kekuasaan lagi untuk mengeluarkan uang kertas. Meskipun demikian, kekuasaannya untuk menciptakan uang tidak lenyap. Bahkan, sekarang ini kekuasaan bank-bank umum untuk menciptakan uang menjadi sangat besar. Kekuasaan itu harus dikendalikan dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah, agar tidak menimbulkan akibat-akibat buruk terhadap perekonomian. Di negara-negara yang maju sistem keuangannya, bank-bank umum merupakan pencipta uang yang utama. Uang yang diciptakan oleh bank-bank umum dinamakan uang giral.

Apabila seseorang atau suatu perusahaan menitipkan uang di sebuah bank umum, dikatakan orang / perusahaan tersebut membuka rekening Koran pada bank tersebut. Dengan demikian, bentuk uangnya berubah, yaitu dari lembaran-lembaran uang kertas menjadi uang giral berupa catatan dalam buku-buku bank. Rekening bank ini tetap mempunyai sifat uang, karena orang dapat membayar pihak lain dengan uang itu. Hanya cara pembayaran menjadi lain. Pembayaran dilakukan dengan perantara surat yang disebut cek. Cek adalah surat perintah kepada bank untuk membayar sejumlah uang dari rekening Koran kepada orang yang disebutkan pada cek tersebut. Pihak yang menerima cek itu kemudian pergi ke bank untuk menguangkan cek tersebut (ditukarkan dengan uang).

Misalnya, PT Artomoro harus membayar utang kepada Pak Heru. PT Artomoro mempunyai rekening di Bank BNI. Untuk melunasi utangnya, PT Artomoro menulis sebuah cek yang diserahkan kepada Pak Heru. Dengan membawa cek tersebut Pak Heru pergi ke Bank BNI dan menerima uangnya. Dalam pembukuan bank, jumlah uang tersebut dipotong dari rekening PT Artomoro. Artinya, uang simpanan PT Artomoro di Bank BNI berkurang sejumlah yang dituliskan dalam cek tersebut.

Apabila kedua belah pihak, mempunyai rekening di bank maka pembayaran utang dapat diselesaikan dengan pemindahbukuan. Jumlah yang harus dibayar oleh PT Artomoro dikurangkan dari rekeningnya di Bank BNI dan ditambahkan pada rekening Pak Heru di bank tempat ia menyimpan uang (membuka rekening). Untuk itu dipergunakan surat yang disebut bilyet giro. Bilyet Giro adalah surat perintah membayar dengan jalan pemindahbukuan. Dalam hal ini pembayaran sudah sama sekali tidak lagi mempergunakan “mata uang” yang berwujud mata uang atau barang material.

 

Sumber : https://sarjanaekonomi.co.id/

Categories
Pendidikan

Manajemen Etika dan Rantai Pasokan

Manajemen Etika dan Rantai Pasokan

Manajemen Etika dan Rantai Pasokan
Etika personal

Meningkatkan dan memperkuat tanggung jawab bagi karyawan , hubungan pemasok dan pelanggan yang positif, kesinambungan dan tanggung jawab social, perlindungan atas informasi yang konfiensial dan informasi paten, hokum, regulasi dan kesepatkan perdagangan yang dapat diterapkan dan pengembangan kompetisi professional Menghindari ketidakpantasan yang dirasakan, konflik kepentingan, perilaku yang secara negative memengaruhi keputusan rantai pasokan, dan kesepakatan berulang yang tidak pantas.

 

Etika di dalam rantai pasokan

Dalam era spealisasi yang tinggi saat ini, banyak sumber daya perusahaan di beli, menempatkan tekanan yang sangat tinggi atas etika dalam rantai pasokan. Manajer mungkin tegoda untuk mengabaikan penyimpangan etik oleh pemasok atau memindahkan polusi ke pemasok.

 

Prilaku etis terhadap lingkungan

Etika yang baik meluas hingga pengoperasian bisnis dengan cara yang mendukung konservasi dan peremajaan sumber daya.hal ini membutuhkan evaluasi keseluruhan dampak lingkungan, dari bahan baku hingga proses manufaktur, melalui penggunaan dan pembuangan akhir.

 

Membangun kesinambungan rantai pasokan

Rantai pasokan masuk menarik banyak perhatian, namun ini hanya bagian dari tantangan kesinambungan. Rantai pasokan kembali juga signifkan. Tujuan manajer operasi haru terbatas pada membakar atau mengubur produk dari pada berusaha keras untuk menggunakannya kembali. Logistic terbalik mengawali serangkaian tantangan baru.

 

Baca Juga Artikel Lainnya :